Senin, 01 Oktober 2012

Berita Duka Dunia Pertanian Organik Indonesia




Indonesia berduka dan dunia Pertanian Berkabung dengan berita Telah wafat Dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang Indonesia yang juga seorang aktivis pertanian organik Indonesia, beliau adalah Dr.Ir.Lily Agustina, Ms

In memoriam (28 Mei 1952 - 25 September 2012)

barulah terasa kehilangan ketika dirinya sudah jauh meninggalkan
yang tersisa hanya penyesalan semata
yang tersisa hanya kenangan
yang tersisa hanya memori

kini tak ada lagi yang akan menegur
kini tak ada lagi yang akan bergurau
kini tak ada lagi yang akan mengingatkan

semoga kenangan yang ada tidak akan pernah hilang
semoga kenangan yang ada tidak tergerus waktu
semoga kenagna yang ada tetap berada dalam lubuk sanubari

selamat jalan guru
semoga ilmu yang kau curahkan
dapat berguna bagi murid-muridmu
semoga cita-cita luhurmu dapat diteruskan
kami akan selalu mengenangmu dan juga ilmu mu
semoga dikau mendapatkan balasan dari semua
ilmu yang kau curahkan
dan semoga Allah menempatkanmu ditempat yang terpuji...

(selamat Jalan Guru dan aktivis organik indonesia Dr. Ir. Lily Agustina, Ms)

Kamis, 06 September 2012

Budidaya Salak



Pembibitan Buah Salak
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam mengusahakan tanaman salak
adalah penggunaan bibit unggul dan bermutu. Tanaman salak merupakan tanaman
tahunan, karena itu kesalahan dalam pemakaian bibit akan berakibat buruk dalam
pengusahaannya, walaupun diberi perlakuan kultur teknis yang baik tidak akan
memberikan hasil yang diinginkan, sehingga modal yang dikeluarkan tidak akan
kembali karena adanya kerugian dalam usaha tani. Untuk menghindari masalah
tersebut, perlu dilakukan cara pembibitan salak yang baik. Pembibitan salak dapat
berasal dari biji (generatif) atau dari anakan (vegetatif).
Pembibitan secara generatif adalah pembibitan dengan menggunakan biji yang baik
diperoleh dari pohon induk yang mempunyai sifat-sifat baik, yaitu: cepat berbuah,
berbuah sepanjang tahun, hasil buah banyak dan seragam, pertumbuhan tanaman
baik, tahan terhadap serangan hama dan penyakit serta pengaruh lingkungan yang
kurang menguntungkan.
Keuntungan perbanyakan bibit secara generatif:
a) dapat dikerjakan dengan mudah dan murah
b) diperoleh bibit yang banyak
c) tanaman yang dihasilkan tumbuh lebih sehat dan hidup lebih lama
d) untuk transportasi biji dan penyimpanan benih lebih mudah
e) tanaman yang dihasilkan mempunyai perakaran kuat sehingga tahan rebah dan
kekeringan
f) memungkinkan diadakan perbaikan sifat dalam bentuk persilangan.
Kekurangan perbanyakan secara generatif:
a) kualitas buah yang dihasilkan tidak persis sama dengan pohon induk karena
mungkin terjadi penyerbukan silang
b) agak sulit diketahui apakah bibit yang dihasilkan jantan atau betina.
1) Persyaratan Bibit
Untuk mendapatkan bibit yang baik harus dilakukan seleksi terhadap biji yang
akan dijadikan benih. Syarat-syarat biji yang akan dijadikan benih :
a) Biji berasal dari pohon induk yang memenuhi syarat.
b) Buah yang akan diambil bijinya harus di petik pada waktu cukup umur.
c) Mempunyai daya tumbuh minimal 85 %.
d) Besar ukuran biji seragam dan tidak cacat.
e) Biji sehat tidak terserang hama dan penyakit.
f) Benih murni dan tidak tercampur dengan kotoran lain.
2) Penyiapan Bibit
a) Bibit dari Biji:
1. Biji salak dibersihkan dari sisa-sisa daging buah yang masih melekat.
2. Rendam dalam air bersih selama 24 jam, kemudian dicuci.
b) Bibit dari Anakan:
1. Pilih anakan yang baik dan berasal dari induk yang baik
2. Siapkan potongan bambu, kemudian diisi dengan media tanah
3) Teknik Penyemaian Bibit
a) Bibit dari Biji:
1. Biji salak yang telah direndam dan dicuci, masukkan kedalam kantong plastik
yang sudah dilubangi (karung goni basah), lalu diletakkan di tempat teduh
dan lembab sampai kecambah berumur 20-30 hari
2. Satu bulan kemudian diberi pupuk Urea, TSP dan KCl, masing-masing 5
gram, tiap 2-3 minggu sekali
3. Agar kelembabannya terjaga, lakukan penyiraman setiap hari
b) Bibit dari Anakan dengan pesemaian bak kayu:
1. Buat bak kayu dengan ukuran tinggi 25 cm, lebar dan panjang disesuaikan
dengan kebutuhan
2. Diisi dengan tanah subur dan gembur setebal 15-20 cm
3. Diatas tanah diiisi pasir setebal 5-10 cm
4. Arah pesemaian Utara Selatan dan diberi naungan menghadap ke Timur
5. Benih direndam dalam larutan hormon seperti Atonik selama 1 jam,
konsentrasi larutan 0,01-0,02 cc/liter air
6. Tanam biji pada bak pesemaian dengan jarak 10 x 10 cm
7. Arah biji dibenamkan dengan posisi tegak, miring/rebah dengan mata tunas
berada dibawah.

4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Untuk pembibitan dari biji, media pembibitan adalah polybag dengan ukuran 20 x
25 cm yang diisi dengan tanah campur pupuk kandang dengan perbandingan 2:1.
Setelah bibit atau kecambah berumur 20-30 hari baru bibit dipindahkan ke polibag.
Pembibitan dengan sistem anakan, bambu diletakkan tepat di bawah anakan
salak, kemudian disiram setiap hari. Setelah 1 bulan akar telah tumbuh dan
anakan dipisahkan dari induknya, kemudian ditanam dalam polybag. Pupuk Urea,
TSP, KCl diberikan 1 bulan sekali sebanyak 1 sendok teh.
5) Pemindahan Bibit
Untuk bibit dari biji, setelah bibit salak berumur 4 bulan baru dipindahkan ke lahan
pertanian. Untuk persemaian dari anakan, setelah 6 bulan bibit baru bisa
dipindahkan ke lapangan.

Pengolahan Lahan Buah Salak
1) Persiapan
Penetapan areal untuk perkebunan salak harus memperhatikan faktor kemudahan
transportasi dan sumber air.
2) Pembukaan Lahan
a) Membongkar tanaman yang tidak diperlukan dan mematikan alang-alang serta
menghilangkan rumput-rumput liar dan perdu dari areal tanam.
b) Membajak tanah untuk menghilangkan bongkahan tanah yang terlalu besar.

Teknik Penanaman Buah Salak
1) Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm dengan jarak tanam 1 x 4
m; 2 x 2 m atau 1,5 x 2,5 m. Ukuran lubang dapat juga dibuat 50 x 50 x 40 cm,
dengan jarak antar 2 x 4 m atau 3 x 4 m. Setiap lubang diberi pupuk kandang
yang telah jadi sebanyak 10 kg.
2) Cara Penanaman
Biji ditanam langsung dalam lubang sebanyak 3- 4 biji per lubang. Sebulan
kemudian biji mulai tumbuh
3) Lain-lain
Untuk menghindari sinar matahari penuh, tanaman salak ditanam di bawah
tanaman peneduh seperti tanaman kelapa, durian, lamptoro dan sebagainya.
Apabila lahan masih belum ada tanaman peneduh, dapat ditanam tanaman
peneduh sementara seperti tanaman pisang. Jarak tanam pohon peneduh
disesuaikan menurut ukuran luas tajuk misalnya kelapa ditanam dengan jarak 10 x
10 m, durian 12 x 12 m dan lamtoro 12 x 12 m.

Pemeliharaan Tanaman Buah Salak
Setelah selesai ditanam, tanaman salak perlu dipelihara dengan benar dan teratur
sehingga diperoleh produksi kebin yang baik dan produktif. Pemeliharaan ini
dilakukan sampai berakhirnya masa produksi tanaman salak.
1) Penjarangan dan Penyulaman
Untuk memperoleh buah yang berukuran besar, maka bila tandan sudah mulai
rapat perlu dilakukan penjarangan. Biasanya penjarangan dilakukan pada bulan
ke 4 atau ke 5.
Penyulaman dilakukan pada tanaman muda atau yang baru ditanam, tetapi mati
atau pertumbuhannya kurang bagus atau kerdil, atau misalnya terlalu banyak
tanaman betinanya. Untuk keperluan penyulaman kita perlu tanaman cadangan
(biasanya perlu disediakan 10%) dari jumlah keseluruhan, yang seumur dengan
tanaman lainnya. Awal musim hujan sangat tepat untuk melakukan penyulaman.
Tanaman cadangan dipindahkan dengan cara putaran, yaitu mengikutsertakan
sebagian tanah yang menutupi daerah perakarannya. Sewaktu membongkar
tanaman, bagian pangkal serta tanahnya kita bungkus dengan plastik agar akarakar
di bagian dalam terlindung dari kerusakan, dilakukan dengan hati-hati.
2) Penyiangan
Penyiangan adalah membuang dan memebersihan rumput-rumput atau tanaman
pengganggu lainnya yang tumbuh di kebun salak. Tanaman pengganggu yang
lazim di sebut gulma ini bila tidak diberantas akan menjadi pesaing bagi tanaman
salak dalam memperebutkan unsur hara dan air.
Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 2 bulan setelah bibit
ditanam, penyiangan berikutnya dilakukan tiap 3 bulan sekali sampai tanaman
berumur setahun. Setelah itu penyiangan cukup dilakukan setiap 6 bulan sekali
atau 2 kali dalam satu tahun, dilakukan pada awal dan akhir musim penghujan.
3) Pembubunan
Sambil melakukan penyiangan, dilakukan pula penggemburan dan pembumbunan
tanah ke pokok tanaman salak. Hal ini dilakukan untuk menghemat ongkos kerja
juga untuk efisiensi perawatan. Tanah yang digemburkan dicangkul membentuk
gundukan atau bumbunan yang berfungsi untuk menguatkan akar dan batang tanaman salak pada tempatnya. Bumbunan jangan sampai merusak parit yang
ada.
4) Perempalan dan Pemangkasan
Daun-daun yang sudah tua dan tidak bermanfaat harus dipangkas. Juga daun
yang terlalu rimbun atau rusak diserang hama. Tunas-tunas yang terlalu banyak
harus dijarangkan, terutama mendekati saat-saat tanaman berbuah (perempalan).
Dengan pemangkasan, rumpun tanaman salak tidak terlalu rimbun sehingga
kebun yang lembab serta pengap akibat sirkulasi udara yang kurang lancar
diperbaiki. Pemangkasan juga membantu penyebaran makanan agar tidak hanya
ke daun atau bagian vegetatif saja, melainkan juga ke bunga, buah atau bagian
generatif secara seimbang.
Pemangkasan dilakukan setiap 2 bulan sekali, tetapi pada saat mendekati masa
berbunga atau berbuah pemangkasan kita lakukan lebih sering, yaitu 1 bulan 1
kali.
Apabila dalam rumpun salak terdapat beberapa anakan, lakukanlah pengurangan
anakan menjelang tanaman berbuah. Satu rumpun salak cukup kita sisakan 1
atau 2 anakan. Jumlah anakan maksimal 3-4 buah pada 1 rumpun. Bila lebih dari
itu anakan akan mengganggu produktivitas tanaman.
Pemangkasan daun salak sebaiknya sampai pada pangkal pelepahnya. Jangan
hanya memotong setengah atau sebagian daun, sebab bagian yang disisakan
sebenarnya sudah tidak ada gunanya bagi tanaman.
Pemangkasan pada saat lewat panen harus tetap dilakuakan. Alat pangkas
sebaiknya menggunakan golok atau gergaji yang tajam. Pemangkasan yang
dilaksanakan pada waktu dan cara yang tepat akan membantu tanaman tumbuh
baik dan optimal.
5) Pemupukan
Semua bahan yang diberikan pada tanaman dengan tujuan memberi tambahan
unsur hara untuk memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman disebut
pupuk. Ada pupuk yang diberikan melalui daerah perakaran tanaman (pupuk
akar). Pupuk yang diberikan dengan cara penyemprotan lewat daun tanaman
(pupuk daun). Jenis pupuk ada 2 macam: pupuk organik dan anorganik. Pupuk
organik adalah pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, abu tanaman, tepung darah
dan sebagainya. Pupuk anorganik adalah: Ure, TSP, Kcl, ZA, NPK Hidrasil,
Gandasil, Super Fosfat, Bay folan, Green Zit, dan sebagainya. Pupuk organik
yang sering diberikan ke tanaman salak adalah pupuk kandang.
Umur tanaman :
a) 0-12 bulan (1 x sebulan): Pupuk kandang 1000, Urea 5 gram, TSP 5 gram, KCl
5 gram. b) 12-24 bulan (1 x 2 bulan): Urea 10 gram, TSP 10 gram, KCl 10 gram.
c) 24-36 bulan (1 x 3 bulan): Urea 15 gram, TSP 15 gram, KCl 15 gram.
d) 36–dst (1 x 6 bulan): Urea 20 gram, TSP 20 gram, KCl 20 gram.
6) Pengairan dan Penyiraman
Air hujan adalah siraman alami bagi tanaman, tetapi sulit untuk mengatur air hujan
agar sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman. Air hujan sebagian besar akan
hilang lewat penguapan, perkolasi dan aliran permukaan. Sebagian kecil saja
yang tertahan di daerah perakaran, air yang tersisa ini sering tidak memenuhi
kebutuhan tanaman. Dalam budidaya salak, selama pertumbuhan, kebutuhan
akan air harus tercukupi, untuk itu kita perlu memberi air dengan waktu, cara dan
jumlah yang sesuai.
7) Pemeliharaan Lain
Setelah ditanam di kebun kita buatkan penopang dari bambu atau kayu untuk
menjaga agar tanaman tidak roboh.

Senin, 25 Juni 2012

Khas Indonesia : Ormas Muhammadiyah Telah Menetapkan 20 Juli Sebagai Awal Ramadhan 1433 H (Awal Puasa) dan 1 Syawal (Lebaran) Pada 19 Agustus 2012


Tak terasa, se­­bulan lagi umat muslim mu­lai menjalankan ibadah pua­sa. Se­­perti biasanya, ken­dati pe­me­­rintah belum mene­tapkan se­cara resmi awal puasa, or­mas keagamaan terbesar Mu­ham­madiyah mengumumkan 20 Juli 2012 jatuhnya awal pua­sa. Se­dangkan 1 Syawal 1433 Hi­jriah berlangsung tang­­­­gal 19 Agus­tus mendatang. 

Pengurus Wilayah Mu­ham­­­ma­­diyah Sumbar menye­but­kan, pe­netapan itu sudah me­lalui ke­sepakatan Pimpinan Pu­sat (PP) Muhammadiyah. Pe­ne­ta­pan ini berdasarkan me­to­de hi­sab yang me­nunjukkan ma­ta­hari sudah terbenam 29 Sya’ban.

Pimpinan Wilayah Mu­ham­madiyah Sumbar, Das­ril Ilyas tidak menafikan ter­ja­dinya perbedaan penetapan awal puasa dengan peme­rin­tah maupun organisasi ke­aga­ma­an lainnya. Tapi, menu­rut per­­hitungan hisab yang dila­ku­kan tim hisab tarjih dan taj­did Mu­hammadiyah, yang ber­pedoman ephemeris ma­tahari dan bulan yang dilakukan Mah­kamah Agung Direktorat Jen­deral Badan Peradilan Aga­ma. Dengan begitu, warga Mu­ham­madiyah menyepakati 1 Ra­madhan pada 20 Juli.

“Shalat Tarawih pertama akan dilakukan sehari se­belum­nya (19 Juli, red). Se­dang­kan hitungan hari berpuasa adalah 30 hari,” ujarnya saat launching Im­sakiyah Ramadhan 1433 Hi­jriah, di Gedung Dakwah Mu­ham­madiyah Sumbar, kemarin (19/6). “Jika nantinya berbeda, kita harapkan tidak ada masalah. Kita akan saling menghormati,” ujarnya.

Acara tersebut juga dihadiri se­jum­lah tokoh Muham­ma­diyah Sumbar, perwakilan Kan­wil Kemenag Sumbar, dan Wakil Wa­li Kota Padang Mahyeldi An­sharullah. Wawako juga meng­­ha­rapkan, jika memang ada per­bedaan, jangan menja­dikan hal itu masalah. “Ber­ibadahlah ter­gan­tung keimanan. Jangan sam­pai menimbulkan musibah ka­rena perbedaan itu,” imbau­nya..

Berpotensi Beda

Sebelumnya, Deputi Bidang Sains, Pengkajian dan Informasi Ke­dirgantaraan Lembaga Pener­bangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin meyakini penetapan awal puasa di Indonesia bakal mengalami perbedaan. Tetapi, penetapan 1 Syawal berpotensi kompak anta­ra sejumlah ormas dengan pe­me­rintah.

Thomas menuturkan, se­telah mengamati posisi bulan, dia menyimpulkan jika ada po­tensi perbedaan dalam pene­tapan 1 Ramadhan. Dia men­je­laskan, pemerintah melalui Ke­menag akan menjalankan pe­nga­matan bulan atau ruk­yatul hilal pada 19 Juli 2012 nanti.

Dari perjalanan bulan, dike­tahui bahwa pada magrib akhir Sya’ban atau 19 Juli 2012 nanti, bulan telah tampak di Indonesia. Tetapi, ketinggiannya ku­rang dari imkan rukyat. Keten­tuan imkan rukyat meng­gu­na­kan kriteria yang disepakati ketinggian bulan minimal 2 derajat.

 Nah, karena pada 19 Juli 2012 bulan sudah wujud tetapi ku­rang dari 2 derajat, maka peng­guna hisab wujudul hilal akan menetapkan awal Rama­dhan jatuh pada 20 Juli. Peng­guna hisab wujudul hilal ini di an­taranya adalah Muham­ma­diyah.

Sedangkan ormas yang meng­gunakan hisab imkan ruk­yat akan menetapkan 1 Ra­madhan pada 21 Juli. Sementara itu, posisi hilal yang rendah tadi (antara 0-2 derajat) tidak mung­kin akan berhasil di-ruk­yat pada 19 Juli. Maka pengguna rukyat kemungkinan besar me­ne­tap­kan 1 Ramadhan jatuh pada 21 Juli. Pengguna rukyat ini di antaranya pemerintah dan Nah­dlatul Ulama.

Rabu, 13 Juni 2012

Cob rot Diplodia (Diplodia maydis = Diplodia Zeae)


Patogen ini terdapat di tempat-tempat yang beriklim dingin. Patogen ini menyebabkan seedling blight, busuk tangkai dan busuk biji. Infeksinya melalui biji dan tanah. Perlakuan lebih efektif dengan pemberian bahan kimia organomerquri dan non merquri yaitu Arasan dan Dithae.
Menurut Semangun (2004), busuk tongkol diplodia tersebar luas di jawa, bahkan penyakit ini sudah menyebar di seluruh Indonesia. Penyakit ini membentuk kompleks busuk tongkol, yang juga menyebabkan busuk daun dan penyakit semai. Pada umunya penyakit ini kurang merugikan, meski[un lebih merugikan di daerah iklim sedang dan di pegunungan daerah tropik.
Gejala yang muncul yaitu terjadi infeksi pada beberapa biji secara tidak tampak sampai ke membusuknya seluruh tongkol dan kelobot. Diantara biji-biji terdapat miselium yang berwarna putih sampai coklat kelabu. Biasanya pembusukan berkembang dari pangkal ke ujung tongkol.
Penyebab penyakit ini adalah Diplodia maydis (Berk) Sacc. Jamur ini membentuk piknidium dalam jaringan, bulat dan agak bulat, coklat tua atau hitam, garis tengah 150-300 µm. Dinding bersel banyak, berwarna lebih gelap disekeliling ostiol yang bulat dan menonjol, yang mempunyai garis tengah 40 µm. Patogen mempertahankan diri dalam biji dan hidup sebagai saprofit pada sisa-sisa tanaman sakit. Pada waktu cuaca lembab, konidium keluar dari piknidium seperti benang-benang hitam, dan seterusnya konidium dapat dipencarkan oleh percikan air, atau setelah mengering oleh angin. Pengendalian dapat dilakukan dengan penanaman benih sehat, penanaman varietas tahan dan perlakuan benih (seed dressing).

Sabtu, 09 Juni 2012

Khas Indonesia : Resep Masakan Mie Atjeh


RESEP MIE ACEH

BAHAN SAYUR-SAYURAN :
- Mie kuning 1 kg
- Toge ¼ kg
- Kol ¼ buah
- Sawi 3 ikat
- Bunga Kol ½ kg
- Bawang Pre 2 batang
- Daun sop 2 ikat
- Udang ½ kg
- Indomie 2 bungkus
- Garam secukupnya

BAHAN BUMBU GILING :
- Bawang Merah 8 siung
- Bawang putih 6 siung
- Kemiri 5 buah
- Lada 1 sendok teh (peres)
- Cabe merah 10 buah
- Tomat 2 buah besar

BAHAN BUMBU RAJANG :
- Bawang merah 4 siung
- Timun 2 buah
- Krupuk Melinjo secukupnya

CARA PEMBUATAN
Tumis bumbu
Tambahkan bawang merah, udang, bawang pre, kol, sawi, bunga kol dan garam.
3. Tambahkan air secukupnya.
4. Sesudah sayuran agak matang masukkan mie kuning beserta indomie dengan
bumbunya.
Setelah hampir matang tambahkan toge dan daun sop
Angkat, sajikan dengan bawang goreng, krupuk melinjo dan buah timun
Selamat mencoba

Kamis, 07 Juni 2012

Compost activators


Proses pembuatan kompos yang dilakukan mempergunakan larutan effective microorganisme  yang disingkat EM.  EM  pertama kali ditemukan oleh Prof. Teruo Higa dari Universitas Ryukyus. Jepang, dengan EM4 nya.
Dalam EM ini terdapat sekitar 80 genus microorganisme fermentor. Microorganisme ini dipilih yang dapat bekerja secara efektif dalam memfermentasikan bahan organik. Secara global terdapat 5 golongan yang pokok yaitu:  
  1. Bakteri fotosintetik
  2. Lactobacillus sp
  3. Streptomycetes sp
  4. Ragi (yeast)
  5. Actinomycetes


Bakteri fotosintetik
Bakteri ini merupakan bakteri bebas yang dapat mensintesis senyawa nitrogen, gula, dan substansi bioaktif lainnya.  Hasil metabolir yang diproduksi dapat diserap secara langsung oleh tanaman dan tersedia sebagai substrat untuk perkembangbiakan mikroorganisme yang menguntungkan.
Lactobacillus sp.

Bakteri yang memproduksi asam laktat sebagai hasil penguaraian gula dan karbohidrat lain yang bekerjasama dengan bakteri fotosintesis dan ragi.  Asam laktat ini merupakan bahan sterilisasi yang kuat yang dapat menekan mikroorganisme berbahaya dan dapat menguraikan bahan organik dengan cepat.
Streptomycetes sp.
Streptomycetes sp. mengeluarkan enzim streptomisin yang bersifat racun terhadap hama dan penyakit yang merugikan.
Ragi (yeast)

Ragi memproduksi substansi yang berguna bagi tanaman dengan cara fermentasi.  Substansi bioaktif yang dihasilkan oleh ragi  berguna untuk pertumbuhan sel dan pembelahan akar.  Ragi ini juga berperan dalam perkembangan atau pembelahan mikroorganisme menguntungkan lain seperti Actinomycetes dan bacteri asam laktat.
Actinomycetes
Actinomycetes merupakan organisme peralihan antara bakteri dan jamur yang mengambil asam amino dan zat serupa yang diproduksi bakteri fotosintesis dan merubahnya menjadi antibiotik untuk mengendalikan patogen, menekan jamur dan bakteri berbahaya dengan cara menghancurkan khitin yaitu zat esential untuk pertumbuhannya. Actinomycetes juga dapat menciptakan kondisi yang baik bagi perkembangan mikroorganisme lain.

Pembuatan Aktivator Kompos

Bahan baku
  1. Induk akteri ( EM) 1 liter
  2. Air Kelapa   1 liter
  3. Molase atau air gula 1 liter
  4. Ditambahkan air 7 liter
Cara Pembuatan
  1. Campurkan ke empat bahan
  2. Masukkan dalam tempat tertutup seperti botol air mineral, jerigen atau drum
  3. Diamkan sampai keluar gas
  4. Setiap hari gas yang dihasilkan dibuang
  5. Setelah 14 hari bahan siap dipakai.
Cara Pemakaian
  1. Aktivator yang telah dibuat dengan cara diatas ditambah 10 liter air kelapa
  2. Ditambah 10 liter air gula/molase
  3. Ditambah 70 liter air
  4. Diamkan selama 1 hari 1 malam
  5. Campurkan ke kompos yang akan dibuat
  6. Larutan 100 liter EM-4 dapat dipakai untuk campuran 2.000 kg bahan baku kompos.

Selasa, 29 Mei 2012

VEGETATIVE PROPAGATION AND TISSUE CULTURE REGENERATION OF Hibiscus Sabdariffa L. (ROSELLE)”


H. sabdariffa L.(Rosela) merupakan tanaman tahunan yang banyak di budidayakan di daerah tropis dan sub tropis untuk di ambil lbatang, serat, bunga, daun dan biji. Tanaman ini banyak dibudidayakan selain sebagai tanaman dekoratif juga sebagaia tanaman obat. Tanaman ini sering dubudidayakan dengan menggunakan biji namun sekarang ini mulai menggunakan metode perbanyakan dengan bagian vegetatif. Tanaman ini biasanya diperbanyak dengan mengguankan metode perbanyakan vegetatif secara invitro mengguankan metode ini karena pada metode banyak sekali kelebihannya antara lain bebas vius, bebas penyakit dll.
Pada tahap awal yang dilakukan ialah dengan cara mengambil batang yang distek yang sudah berumur dua bulan dengan panjang 17-22 cm dan batang dengan panjang18-20 cm dan dengan diameter masing-masing adalah 4 mm dan 6 mm.kemudian dicelupkan selama 5 menit di 0,5–1g/IBA, BHD pool limmited dan 0,5-1 g  /1 NAA kemudian dilakukan langsung oragonogenesis setelah tanaman terbentuk kalus kemudian dilakukan oraganogenesis Kalus diinduksi menggunakan daun dan batang dari bibit berkecambah secara in vitro sebagai  explants. MS Eksplan sebesar 0,5 × 0,5 cm diinokulasi pada MS  (1962) medium dengan Thidiazuron (TDZ) atau  2,4-dicholrophenoxy acetic acid (2, 4-D) at 0.1mg/l to 2.0 2,4-asam asetat dicholrophenoxy (2, 4-D) di 0.1mg / l menjadi 2,0  mg/l and 0.01 mg/l to 0.05 mg/l respectively. mg / l dan 0,01 mg / l untuk 0,05 mg / l masing-masing. Satu eksplan dikultur per tabung dan produksi kalus tercatat . sebagai persentase eksplan respon. Pengaruh  (4.0-5.0 mg/l), 6-Benzyl amino-purine (BAP) (0.5-2.0 (4,0-5,0 mg / l), 6-Benzil-amino purin (BAP) (0,5-2,0  mg/l) and TDZ (0.l-1.5 mg/l) dan TDZ (0.l-1.5 mg / l) dibandingkan untuk kalus tersebut
Kemudian dilakukan aklimatisasi tanaman yang sudah terbentuk akar, batang dan daun. Dari hasil yang didapat diperoleh sebuah bahwasanya jumlah daun meningkat secara signifikan dengan menggunakan perlakuan NAA 0,5 g/l di bandingkan dengan menggunakan perlakuan yang lain. Sedngkan untuk batang mengalami peningkatan pada perlakuan dengan menggunakan 0,5 g/l dan pada pertumbuhan akar terlihat perkembangan yang signifikan pada perlakuan dengan menggunakan IBA 1 g/l seperti gambar di bawah ini

Sabtu, 26 Mei 2012

Subkultur dan Aklimatisasi


1.                  TINJAUAN PUSTAKA

1.1        PENGERTIAN SUBKULTUR
·         Subculture  is After a period of time, it becomes necessary, chiefly due to nutrient depletion and medium drying, to transfer organs and tissues to fresh media.
·         Subculture is the process by which the tissue or explant is first subdivide, then transferred into fresh culture medium.
·         Subkultur adalah memindahkan eksplan ke media multiplikasi (tujuan perbanyakan atau pengakaran) (Andri, 2008).
1.2        ALASAN DILAKUKAN SUBKULTUR
·         Unsur hara dalammedia sudah banyak berkurang.
·         Nutrisi dalam media menguap karena kering, akibatnya media mengandung garam dan gula tinggi.
·         Pertumbuhan tanaman sudah memenuhi botol atau tabung sehingga berdesakan.
·         Sudah saatnya dipindah untuk diperbanyak atau diakarkan.
·         Terjadi pencoklatan pada media sehingga bila dibiarkan akan mematikan jaringan.
·         Eksplant memerlukan komposisi media baru untuk membentuk organ atau struktur baru.
·         Media berubah, menjadi cair karena penurunan pH oleh tanaman.
(Wardiyati,1998)

1.3        TAHAPAN SUBKULTUR
Tahapan subkultur meliputi :
1.      Regenerasi
2.      Multiplikasi
Tujuan dari tahapan ini adalah untuk memperoleh dan memperbanyak  tunas.
3.      Pengakaran
      Tunas atau plantlet yang dihasilkan dari tahapan ke 2 tersebut umumnya masih sangat kecil atau tunas yang belum dilengkapi dengan akar sehingga belum mampu untuk mendukung pertumbuhannya dalam kondisi in-vivo. Oleh karena itu, dalam tahap ini masing-masing plantlet yang dihasilkan ditumbuhkan untuk pembesaran, pengakaran dan perangsangan aktifitas fotosintesisnya.
      Media MS tersebut di tambah dengan Zat Pengatur Tumbuh Sitokinin (MS+BA 0,5-2ppm). Setelah pembuatan media multiplikasi, eksplan dipindah ke media pengakaran (MS + Auksin + arang aktif). Tahap selanjutnya adalah inisiasi eksplan.(Andri, 2008)
Pada tahapan ini, tunas yang dihasilkan dipotong-potong dengan teknik single-node/ multiple node culture maupun dengan mengambil pucuknya sebagai eksplan untuk perbanyakan. Bahan tersebut kemudian ditanam pada media baru yang umumnya mengandung sitokinin pada konsentrasi yang lebih tinggi dari auksin. Pada tahap ini dapat digunakan media cair (media tanpa agar), semi padat maupun media padat. Dengan modifikasi media yang sesuai, tunas-tunas baru akan tumbuh dari potongan eksplan. Tahapan ini umumnya dilakukan sebanyak 8 – 10 kali sehingga akan dapat dihasilkan sejumlah besar tunas (ribuan tunas) dari satu eksplan pada tahapan inisiasi. Tunas tersebut selanjutnya dibesarkan atau diakarkan pada tahap mikropropagasi berikutnya.(Anonymous, 2009a)
1.4        PENGERTIAN AKLIMATISASI DAN TAHAP-TAHAPNYA
·         Aklimatisasi ialah Proses penyesuaian palnlet dari kondisi mikro dalam botol (heterotrof) ke kondisi lingkungan luar (autotrof) (Dinas pertanian, 2002) Proses penyesuaian dengan lingkungan baru di luar laboratorium. (Radarlamsel, 2009)
·         Acclimatization is kind of activity to move exsplat from aceptic room to the field.
-          Aklimatisasi  ialah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedengan.                                                                                         (Anonymous,2010b)
·         Acclimatization is plant adaptation from metter medium in vitro to the  medium in vivo.
-          Aklimatisasi ialah adaptasi tanaman pada media hara in vitro ke media tanam in vivo.                                                                                                 (Anonymous,2010c)
Tahap – tahap dari aklimatisasi ialah
·         Hardening
Merupakan perlakuan yang diberikan kepada planlet dengan cara pengabutan (fog, semprotan air halus) lalu ditutup dengan kerudung plastik.
·         Fogging
Merupakan pengkabutan planlet atau tanaman muda untuk memenuhi kebutuhan air dan kelembaban (suhu mikro) tanaman. Fogging dilakukan dengan cara menyemprotkan air pada plastic yang menutupi tempat penanaman dengan ukuran lubang penyemprotan yang paling kecil.                                                                   (Katuuk,1989)
Menurut Wardiyati, 1998 tahap kegiatan aklimatisasi yang dilakukan dalam mempersiapkan tanaman sebelum ditanam d lapang ialah : aklimatisasi selama 2-4 minggu. Pembesaran 1 bulan  dari pemanasan 1 bulan. Aklimatisasi yang dimaksudkan di sini ialah memindahkan tanaman dari botol ke dalam kondisi in vitro tetapi dengan kelembaban tinggi, cahaya rendah, suhu rendah.
1.5        SYARAT PLANLET YANG DIGUNAKAN UNTUK AKLIMATISASI
Planlet sebelum di aklimatisasi perlu diperhatikan ada tidakanya akar, yang baik adalah jika sudah ada akar pada planlet yang akan diaklimatisasi atau paling sedikit sudah ada primordia akar yang nantinya akan tumbuh normal di media tanam. Untuk mempercepat tumbuhnya akar di tanah, batang dapat dicelup dalam larutan auksin sebelum ditanam di tanah.
(Wardiyati,1998)
1.6        FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN PLANLET PADA TAHAP AKLIMATISASI
·         Kelembaban
Dalam keadaan in vitro kelembaban udara 95% dan pada keadaan in vivo kelembaban udara 80% sehingga agar planlet dapat tumbuh ketika aklimatisasi maka secara bertahap udara diturunkan deri 95% in vitro menjadi 70-80% pada kondisi in vivo. Dengan ini lapisan kutikula terbentuk dan stomata mulai berfungsi                           .(Wardiyati,1998)
·         Suhu
Dalam keadaan in vitro suhu optimal 21-25°c dan suhu pada keadaan in vivo yaitu 30°c. sehingga agar planlet tidak mati maka ketika aklimatisasi, suhu di tempat aklimatisasi harus dijaga agar tanaman atau planlet dapat beradaptasi dengan suhu pada keadaan in vivo.                                                                                                              (Yusnita,2004)
·         Cahaya
Dalam keadaan in vitro intensitas cahaya sebesar 1000-3000 lux dan pada keadaan in vivo yaitu 4000 lux, sehingga ketika sklimstisasi berlangsung intensitas cahaya yang masuk berkisar antara 20-40%.                                                                  (Wardiyati,1998)
Kemudian cahaya diataur dari intensitas rendah dan meningkat secara bertahap.      (Yusnita,2004)
·         Media yang digunakan
Media yang digunakan merupakan campuran antara tanah, pasir, dan bahan organic (pupuk kandang, humus, sabut kelapa, sekam, serbuk gergaji, azola,dll). Setelah dicampur dengan komposisi yang disesuaikan dengan sifat tanaman.\ kemudian media tersebut diayak dan disesuaikan dengan sifat tanaman kemudian media tersebut diayak dan disterilkan dengan uap airnya yang lamanya tergantung volume media. Media tersebut dileyakkan di dalam bak-bak plastic atau bedengan dan ditutup dengan plastic selama 3 hari baru kemudian bisa ditanam.                                               (Wardiyati,1998)

1.7        PEMELIHARAAN TANAMAN DALAM KONDISI AKLIMATISASI
      Salah satu metode yang digunakan pada proses aklimatisasi tanaman botol ke tanaman pot menurut lc nursery adalah sbb:
·         Bibit yang masih ada didalam botol dikeluarkan dengan hati-hati menggunakan kawat atau dengan memecahkan botol setelah dibungkus dengan kertas.
·         Bibit kemudian dibilas diatas tray plastik berlubang sebelum disemprot dengan air mengalir untuk membersihkan sisa media agar.
·         Tiriskan bibit yang sudah bersih diatas kertas koran.
·         Tanam bibit secara berkelompok tanpa media tanam, kemudian tempatkan ditempat teduh yang memiliki sirkulasi udara yang baik.
·         Tanaman disemprot setiap hari menggunakan hand sprayer.
·         Setelah kompot berumur 1-1.5 bulan, bibit dapat ditanam dalam individual potmenggunakan media pakis atau sabut kelapa.
 (Anonymousd, 2010)

         Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generative.                                                  
   (Anonymousd, 2010)
 Andri, 2008. Kultur Jaringan Anthurium. http://www.eshaflora.com/kultur jaringan/
Anonymous a. 2010. http://arifinbits.files.wordpress.com/2008/02/mengenalkuljar.pdf.
Anonymousb, 2010.Kuljar.Http://www.e-learning.unram.ac.id/kuljar/bab2/
Anonymousc, 2010. Mikroporopagasi. Http:// SitusHijau.co.id/mikropropagasi/
Anonymousd, 2010. Teknik Pembibitan Tanaman Dan Produksi Benih. http://www.scribd.com/doc/13044231/kelas-11teknik-pembibitan-tanaman-dan-produksi-benihparistiyanti/
Hardini, Y. 2009. Kultur Jaringan Tanaman.http://dinhardini.blogspot.com/2007/02/bahan-kuliah.html. Diakses tanggal 23 Mei 2009.
Hendaryono, D.P.S.1994. Teknik kultur jaringan. Kanisius. Yogyakarta.  
Katuuk, R. P. J. 1989. Teknik kultur dalam mikropropagasi tanaman. Depdikbud Dirjen PT Proyek Pembangunan Lembaga Pendidikan Tinggi
Wardiyati, Tatik. 1998. Kultur Jaringan Tanaman Hortikultura. FP UB. Malang.
Yusnita. 2004. Kultur Jaringan Cara Memperbanyak Tanaman secara Efisien. Agromedia Pustaka. Jakarta.